Jumat, 31 Desember 2010

Manajemen Diri

Manajemen diri menurut definisi saya adalah motode mgangatur atau mengkontrol apa, dimana, kapan, bagaimana kita (diri sendiri) yang akan kita lakukan. Semua yang kita lakukan harus ada pengendaliannnya, karena dari pengendalian itulah dapat tercipta suatu kesuksesan yang akan kita tuju. Manajemen sendiri saya artikan  mengatur, mengelola, memimpin, dan kata ”diri” sendiri saya artikan apa yang saya lakukan, dimana saya ada, dan segala sesuatu tentang saya adalah artikata dari ”diri”.

Setiap manusia pasti pernah melakukan berbagai kesalahan, baik yang disengaja, ataupun tidak, disinilah pentingnya peran manajemen diri. manajemen diri sangatlah penting dalam segala situasi. Manajemen diri dapat mengendalikan segala perbuatan kita, manajemen diri bisa membuat kita intropeksi diri dari segala perbuatan yang telah kita  perbuat, manajemen diri dapat membuat diri kita menjadi pemimpin yang tangguh, manajemen diri pun dapat membuat kita menjadi seorang pemenang.

Ya, ”pemenang”, pemenang disini saya artikan bahwa, menang dalam melawan rasa egois yang ada dalam diri kita. Egois berasal dari 2 kata yaitu, ”ego” yang berarti diri sendiri, pribadi, kemudian ”is” berarti kepentingan, mengutamakan. Jadi egois dapat dapat disumpulkan mengutamakan diri sendiri tanpa menghiraukan orang lain yg ada disekitarnya.

Beberapa waktu yang lalu saya membaca artikel yang berisi tentang Mahasiswa Indonesia yang melanjutkan studinya (perguruan tinggi) di Univ. Al-Azhar di Mesir. Ternyata kebanyakan mahasiswa yang belajar disana tidak sepenuhnya menjadi mahasiswa sungguhan. Diantara mereka ada yang ke mesir hanya untuk mendapatkan visa misalnya, menjadi istri dari lelaki yang sedang menuntut ilmu dimesir, atau sebaliknya, ada yang hanya mengejar gelar, dan masih banyak lagi alasan mereka yang menuntut ilmu di mesir.

Tidak saya pungkiri menahan rasa keinginan dan melawan hawa nafsu yang negatif tidaklah ringan, namun inilah tantangan, disinilah kemampuan kita untuk mengelola segala keinginan-keinginan yang hanya mengandalkan emosi semata. Saya pun sampai saat ini belum bisa (bukan berarti tidak sama sekali) mengelola, dan mengontrol diri sendiri.

Tetapi, setelah apa yang terjadi dalam diri saya dan kejadia-kejadia yang telah saya alami selama 21tahun belakangan ini membuat saya sadar akan ketidak tepatan saya dalam mengelola diri saya sendiri. Saya sering bahkan terlampau sering mengabaikan waktu dan kesempatan, saya pun sering mempergunakan waktu yang seharusnya bisa diisi dengan segala hal yang bisa membuat jalan menuju kesuksesan berada dekat didepan mata. Dan kesalahn fatal yang paling membuat saya merasa saya adalah manusia yang sangat merugi ialah, selama 21 tahun ini saya sering berfikir saya tidak mampu melakukan hal yang ikin saya lakukan dan saya sering membatasi diri saya.

Ada point yang saya sadari bahwa sangatlah penting berfikiran positif dalam segala hal, karena apa yang kita fikirkan, kita bayangkan maka itu yang akan terjadi. Point penting ini saya dapatkan dari seorang dosen yang kala itu sangatlah memberi pesan moral penting tentang berfikir positif. Berfikir positif bahwa kita pasti bisa melompat tinggi bahkan jauh lebih tinggi dari yang kita bayangkan. Jika kita berani melompat tinggi kita pasti bisa mencapai apa yang kita inginkan.  Coba kita renungkan apakah semua cita-cita kita atau katakanlah keinginan, mimpi-mimpi kita sudah semua tercapai? Jika belum, jawabannya adalah ada pada diri kita sendiri. Disadari atau tidak segala hal yang kita raih saat ini adalah berasal dari mimpi, usaha, motivasi diri dan “makanan” untuk manajemen diri kita.

Saatnya kita membuat batasan yang lebih menantang dan kemudian tantanglah batasan itu sampai kita berhasil mencapainya. Berikan makanan yang positif kepada manajemen diri kita terutama kedalam pikiran kita dan lakukan pengulangan agar keyakinan positif itu menjadi kebiasaan positif kita sehari-hari, yang akhirnya sebuah pikiran dapat merupakan kunci kegagalan sekaligus keberhasilan.

Jika kita memberikan masukan pikiran positif ke dalam pikiran kita maka ia akan menjadi kekuatan yang tak tergoyahkan. Dan sebaliknya jika kita memasukan pikiran yang negatif itu akan membuyarkan semua kesempatan yang
ada di depan mata kita

BERMIMPILAH. Bermimpi ialah salah satu wujud dari manajemen diri pula.





Kamis, 11 November 2010

Komunikasi Efektif



Komunikasi Efektif


Arum Ria Rahajeng
Marketing Communications
44308010019

 KATA PENGANTAR
Puji saya panjatkan kehadirat Tuhan YME karena dengan rahmat-Nya lah saya dapat menyelesaikan makalah ini dengan lancar. Tidak lupa ucapan terima kasih saya haturkan kepada Ibu Yoyoh selaku dosen Interpersonal Skill yang telah membiming saya dalam menyelesaikan makalah ini, serta kepada kedua orang tua saya, dan banyak segenap kawan-kawan yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.
Dalam makalah ini saya menjelaskan secara terperinci tentang Komunikasi Efektif  dari mulai pengertian komunikasi, fungsi komunikasi, sampai dengan bagaimana cara menciptakan komunikasi yang efektif.
Dengan adanya makalah ini, saya berharap bisa menambah keingin tahuan orang yang membaca tentang apa itu komunikasi dan segala macam yang berhubungan dengan komunikasi.
Penulis sadar, makalah ini masih banyak kekurangan baik dalam isi pembahasan dan juga penulisan, maka dari itu apabila ada kesalaha dalam penulisan dan informasi, penulis mengucapkan maaf yang sebesar-besarnya.






                                                                                                            Penulis

  Arum Ria Rahajeng
BAB I
PENDAHULUAN

  1. LATAR BELAKANG

Komunikasi adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan social tanpa komunikasi kita tidak akan tahu segala perkembangan yangterjadi di sekitar kita, tanpa komunikasi kita tidak akan tahu apa yang di inginkan sekeliling kita, tanpa komunikasi kita tidak akan bisa melangsungkan kehidupan. Kita sebagai makhluk social memang ditakdirkan stidak bisa hidup sendiri, kita pasti butuh bantuan orang lain, disinilah pentingnya peran komunikasi.

Perlu kita ketahui, komunikasi bukanlah hal yang mudah, untuk mencapaiapa yang kita inginkan, kita perlu mencapai komunikasi yang efektif, dan untuk mencapai komunikasi yang efektif sangat lah diperlukan proses komunikasi yang sempurna, dari mulai sumber, pesan, saluran, penerima, feed back. Kelima element itulah yang sangat mempengaruhi bisa atau tidaknya tercipta komunikasi yang efektif.

Bisa kita katakan komunikasi yang kita lakukan sudah efektif apabila, adanya encoding-decoding yang berlangsung dalam kegiatan komunikasi.


BAB II

PEMBAHASAN


Beberapa definisi komunikasi:

·         Harold Laswell: Komunikasi adalah gambaran mengenai siapa, mengatakan apa, melalui media apa, kepada siapa, dan apa efeknya.

·         William J. Seller: Komunikasi adalah proses dimana simbol verbal dan nonverbal dikirimkan, diterima dan diberi arti.

·         Onong Cahyana Effendi: Komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberitahu, mengubah sikap, pendapat, atau perilaku, baik secara lisan (langsung) ataupun tidak langsung (melalui media).

Dari beberapa definisi diatas dapat saya simpulkan, komunikasi dapat diartikan suatu proses penyampaian pesan dari sumber (komunikator) ke penerima pesan (komunikan) melalui sumber atau saluran  yang ditentukan  dan  berdampak yang positif atau negative, dampak disini biasa disebut feed back. Proses komunikasi tidak selalu dilakukan dengan lisan, tulisan, komunikasi juga bisa dilakukan dengan gerakan-gerakan atau symbol tertentu yang memiliki makna tertentu yang bisa dipahami oleh si penerima pesan.

Komunikasi memiliki beberapa fungsi, antara lain:

·         To educate

·         To inform

·         To persuade

·         To entertain

·         To influence


Element-element komunikasi, yakni:

·         Sumber (source)

·         Pesan (message)

·         Saluran (channel)

·         Penerima (receiver)

 

Keempat elemen inilah yang menjadi kompeonen utama penentu keberhasilan suatu komunikasi, bila salah satu dari element tersebut tidak diadakan dalam proses komunikasi, maka komunikasi tidak akan berhasil sempurna.

Selain ke empat elemen tadi, ada 3 elemen tambaha, yakni:
  1. Feedback (Umpan Balik), Umpan balik adalah suatu respon yang diberikan oleh penerima. Penerima disini bukan dimaksudkan kepada penerima sasaran (khalayak), namun juga bisa didapatkan dari media itu sendiri. Misal, kita sebagai seorang penulis mengirimkan sebuah artikel kepada suatu media massa. Lalu, bisa saja kita artikel kita ternyata bagus, namun ada beberapa hal yang harus di edit. Sehingga, pihak media mengembalikan artikel kita untuk di edit ulang.
  2. Efek, sebuah komunikasi dapat menyebabkan efek tertentu. Efek komunikasi adalah sebuah respon pada diri sendiri yang bisa dirasakan ketika kita mengalami perubahan (baik itu negatif atau positif) setelah menerima pesan. Efek ini adalah sebuah pengaruh yang dapat mengubah pengetahuan, perasaan, dan perilaku (Kognitif, afektif, dan konatif)

  3. Lingkungan, adalah sebuah situasi yang dapat mempengaruhi terjadinya suatu komunikasi. Situasi Lingkungan terjadi karena adanya 4 faktor :
  • Lingkungan Fisik(Letak Geografis dan Jarak)
  • Lingkungan Sosial Budaya (Adat istiadat, bahasa, budaya, status sosial)
  • Lingkungan Psikologis ( Pertimbangan Kejiwaan seseorang ketika menerima pesan)
  • Dimensi Waktu (Musim, Pagi, Siang, dan Malam)






Wilbur Schramm (dalam Effendy, 1994) menyatakan bahwa komunikasi akan berhasil (terdapat kesamaan makna) apabila pesan yang disampaikan oleh komunikator cocok dengan kerangka acuan (frame of reference) , yakni paduan pengalaman dan pengertian (collection of experiences and meanings) yang diperoleh oleh komunikan. Selain itu bidang (field of experience) merupakan faktor penting juga dalam komunikasi. Jika bidang pengalaman komunikator sama dengan bidang pengalaman komunikan, komunikasi akan berlangsung lancar.

Dari yang dikemukakan oleh Wilbur Scharmm dapat dismpulkan, untuk berkomunikasi efektif tidaklah mudah, antara komunikan dan komunikator harus memiliki setidaknya persamaan dalam beberapa hal. Dengan adanya persamaan-persamaan tersebut, maka komunikasiakan berjalan efektif, tepat pada ada yang diiinginkan oleh komunikator, dan feed back yang diharapkan pun akan baik. Dalam proses komunikasi yang efektif, ada proses yang di sebut proses encoding-decoding, yakni teknik penyampaian pesan  dan penerimaan pesan.

Encoding ialah cara komunikator menyampaikan pesan ke komunikan dengan baik, dengan melihat siapa yang diajak brekomunikasi. Sedangkan decoding ialah proses dimana penerima pesan atau komunikan menengkap pesan yang telah disanpaikan oleh komunikator dan pemahaman pesan, yang berjung pada feedback.

Feed back positif akan terjadi apabila proses encoding yang dilakukan oleh komunikator sempurna, ada banyak hal yang harus diperhatikan oleh komunikator dalam menyampaikan pesan ke komunikan anatara lain memahami latar belakang pengalaman, kemampuan, kecerdasan, minat dan lain-lain dari penerima.
Menurut Stewart L. Tubbs dan Sylvia Moss,  komunikasi yang efektif setidaknya harus menghasilkan 5 hal, antara lain:

  1. Pengertian dan menyampaikan informasi
  2. Kesenangan
  3. Pengaruh pada sikap
  4. Hubungan yang makin baik dan tindakan
  5. Menghasilkan tindakan nyata

1.                  Pengertian dan Menyampaikan Informasi
Ketepatan dalam memberikan atau penyampaian informasi oleh komunikator ke komunikas, agar apa yang dimaksud oleh komunikator tidak diartikan lain. Misalnya, kata gila yang disampaikan ke komunikan dapat dipersepsikan berbeda-beda oleh setiap komunikan, tergantung bagaimana si komunikator menyampaikannya, terkait dengan gesture, mimik wajah, dan intonasi.

2.                  Kesenangan
Tidak semua yang kita sampaikan harus berbentuk informasi yang monoton, tetapi komunikasi juga harus menimbulkan rasa senang, akrab, hangat dan kekeluargaan misalnya kita menyapa teman lama yang sudah lama tidak bertemu dengan kalimat ” Apa kabar, lama tidak jumpa.”

3.                  Pengaruh Pada Sikap
Komunikasi yang kita hasilkan haruslah dapat sedikit banyak mempengaruhi seseorang yang kita ajak berkomunikasi. Disinilah fungsi komunikasi persuasi berlangsung, persuasi sendiri berarti mempengaruhi atau mengajak. Contohnya, seorang khatib masjid yang sedang memberikan ceramah di masjid, khatib tersebut menerangkan bahwa berzakat adalah wajib bagi semua umat Islam.


4.                  Hubungan yang Makin Baik dan Tindakan
Sebuah penelitian yang pernah dilakukan oleh Philip G Zimbardo, membuktikan kurangnya komunikasi (disebabkan oleh anonimitas/tidak saling mengenal) menjadikan orang menjadi agresif, senang mencuri dan merusak dan kurang memiliki tanggung jawab sosial.

5.                  Menghasilkan Tindakan Nyata
Keberhasilan komunikasi biasanya diukur dari tindakan nyata yang dihasilkan. Karena untuk menghasilakan tindakan, kita harus berhasil lebih dahulu menanamkan pengertian, membentuk dan mengubah sikap atau menumbuhkan hubungan yang baik. Tindakan adalah hasil dari komulatif sebuah proses komunikasi.



KESIMPULAN

Manusia ditakdirkan menjadi makhluk sosial, tidak bisa hidup tanpa bantuan oarng lain. Komunikasi adalah salah satu cara untuk bersosialisasi dengan lingkungan sekitar, tanpa komunikasi hidup kita akan statis, tidak berkembang. Komunikasi sangat lah membantu kita untuk mencurahkan apa yang kita butuhkan, apa yang kita inginkan kepada orang lain yang kita aja untuk berkomunikasi, asalakan proses komunikasi yang kita lakukan sempurna, dan faktor-faktor penting dalam komunikasi kita perhatikan saan berkomunikasi. Dengan itu semua, maka akan tercipta komunikasi yang efektif dan apa yang kita butuhkan dan kita inginkan dapat terjuwud sesuai tujuan kita.








DAFTAR PUSTAKA

Rabu, 03 November 2010

Negosiasi (Interpersonal Skill)

Negosiasi adalah sebuah bentuk interaksi sosial saat pihak - pihak yang terlibat berusaha untuk saling menyelesaikan tujuan yang berbeda dan bertentangan. Menurut kamus Oxford, negosiasi adalah suatu cara untuk mencapai suatu kesepakatan melalui diskusi formal.
Negosiasi merupakan suatu proses saat dua pihak mencapai perjanjian yang dapat memenuhi kepuasan semua pihak yang berkepentingan dengan elemen-elemen kerjasama dan kompetisi.

Faktor yang paling berpengaruh dalam negosiasi adalah filosofi yang menginformasikan bahwa masing-masing pihak yang terlibat. Ini adalah kesepakatan dasar kita bahwa "semua orang menang", filsafat ini menjadi dasar setiap negosiasi. Kunci untuk mengembangkan filsafat supaya "semua orang menang" adalah dengan mempertimbangkan setiap aspek negosiasi dari sudut pandang pada pihak lain dan pihak negosiator.

Berikut ini, adalah keterampilan -keterampilan dasar dalam bernegosiasi 
  1. Ketajaman pikiran / kelihaian
  2. Sabar
  3. Kemampuan beradaptasi
  4. Daya tahan
  5. Kemampuan bersosialisasi
  6. Konsentrasi
  7. Kemampuan berartikulasi
  8. Memiliki selera humor

Negosiasi terjadi ketika kita melihat bahwa orang lain memiliki atau menguasai sesuatu yang kita inginkan. Tetapi sekedar menginginkan tidak cukup. Kita harus melakukan negosiasi untuk mendapatkan apa yang kita inginkan dari pihak lain yang memilikinya dan yang juga mempunyai keinginan atas sesuatu yang kita miliki. Sedangkan agar negosiasi dapat terjadi dengan sukses, kita harus juga bersiap untuk memberikan atau merelakan sesuatu yang bernilai yang dapat kita tukar dengan sesuatu yang kita inginkan tersebut.
Dalam buku Teach Yourself Negotiating, karangan Phil Baguley, dijelaskan tentang definisi NEGOSIASI yaitu suatu cara untuk menetapkan keputusan yang dapat disepakati dan diterima oleh dua pihak dan menyetujui apa dan bagaimana tindakan yang akan dilakukan di masa mendatang. Sedangkan negosiasi memiliki sejumlah karakteristik utama, yaitu:
1. senantiasa melibatkan orang – baik sebagai individual, perwakilan organisasi atau perusahaan, sendiri atau dalam kelompok;
2. memiliki ancaman terjadinya atau di dalamnya mengandung konflik yang terjadi mulai dari awal sampai terjadi kesepakatan dalam akhir negosiasi;
3. menggunakan cara-cara pertukaran sesuatu –baik berupa tawar menawar (bargain) maupun tukar menukar (barter);
4. hampir selalu berbentuk tatap-muka –yang menggunakan bahasa lisan, gerak tubuh maupun ekspresi wajah;
5. negosiasi biasanya menyangkut hal-hal di masa depan atau sesuatu yang belum terjadi dan kita inginkan terjadi;
6. ujung dari negosiasi adalah adanya kesepakatan yang diambil oleh kedua belah pihak, meskipun kesepakatan itu misalnya kedua belah pihak sepakat untuk tidak sepakat.

Pada dasarnya negosiasi bisa terjadi dimanapun, kapanpun tergantung sebesar apa masalahnya dan apa yang di diskusikan. Negosiasi tidak semua orang bisa melakukannya, karena negosiasi perlu keterampilan khusus, seperti kecakapan dalam berbicara, berpenampilan didepan umum, mampu mengendalikan emosi, dan yang paling terpenting dalam negosiasi adalah mencapai kesepakatan bersam antara kedua belah pihak, win-win, dan negosiasi bukan persuasi yang mengarah ancaman. Negosiasi adalah penting, menurut saya pribadi negosiasi itu melatih kita untuk mengasah jiwa kepemimpinan kita dan juga negosiasi dapat membuat kita mengenal karakter orang-orang yang kita ajak bernegosiasi.

Sumber:
http://www.edo.web.id/wp/2007/08/14/negosiasi/

Komunikasi Efektif (Interpersonal Skill)

Kata atau istilah komunikasi (dari bahasa Inggris “communication”), secara etimologis atau menurut asal katanya adalah dari bahasa Latin communicatus, dan perkataan ini bersumber pada kata communis Dalam kata communis ini memiliki makna ‘berbagi’ atau ‘menjadi milik bersama’ yaitu suatu usaha yang memiliki tujuan untuk kebersamaan atau kesamaan makna.Lasswell mengatakan bahwa cara yang baik untuk untuk menjelaskan komunikasi ialah dengan menjawab pertanyaan sebagai berikut: Who Says What In Which Channel To Whom With What Effect?
Paradigma Lasswell di atas menunjukkan bahwa komunikasi meliputi lima unsur sebagai jawaban dari pertanyaan yang diajukan itu,yaitu:
1. Komunikator (siapa yang mengatakan?)
2. Pesan (mengatakan apa?)
3. Media (melalui saluran/ channel/media apa?)
4. Komunikan (kepada siapa?)
5. Efek (dengan dampak/efek apa?).

Jadi berdasarkan paradigma Lasswell tersebut, secara sederhana proses komunikasi adalah pihak komunikator membentuk (encode) pesan dan menyampaikannya melalui suatu saluran tertentu kepada pihak penerima yang menimbulkan efek tertentu.
Berangkat dari paradigma Lasswell, Effendy membedakan proses komunikasi menjadi dua tahap, yaitu:

1. Proses komunikasi secara primer
Proses komunikasi secara primer adalah proses penyampaian pikiran dan atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang (symbol) sebagai media. Lambang sebagai media primer dalam proses komunikasi adalah pesan verbal (bahasa), dan pesan nonverbal (kial/gesture, isyarat, gambar, warna, dan lain sebagainya) yang secara langsung dapat/mampu menerjemahkan pikiran dan atau perasaan komunikator kepada komunikan. 


Komunikasi berlangsung apabila terjadi kesamaan makna dalam pesan yang diterima oleh komunikan. Dengan kata lain , komunikasi adalah proses membuat pesan yang setala bagi komunikator dan komunikan. Prosesnya sebagai berikut, pertama-tama komunikator menyandi (encode) pesan yang akan disampaikan disampaikan kepada komunikan. Ini berarti komunikator memformulasikan pikiran dan atau perasaannya ke dalam lambang (bahasa) yang diperkirakan akan dimengerti oleh komunikan. Kemudian giliran komunikan untuk menterjemahkan (decode) pesan dari komunikator. Ini berarti ia menafsirkan lambang yang mengandung pikiran dan atau perasaan komunikator tadi dalam konteks pengertian. Yang penting dalam proses penyandian (coding) adalah komunikator dapat menyandi dan komunikan dapat menerjemahkan sandi tersebut (terdapat kesamaan makna).

Wilbur Schramm (dalam Effendy, 1994) menyatakan bahwa komunikasi akan berhasil (terdapat kesamaan makna) apabila pesan yang disampaikan oleh komunikator cocok dengan kerangka acuan (frame of reference) , yakni paduan pengalaman dan pengertian (collection of experiences and meanings) yang diperoleh oleh komunikan. Schramm menambahkan, bahwa bidang (field of experience) merupakan faktor penting juga dalam komunikasi. Jika bidang pengalaman komunikator sama dengan bidang pengalaman komunikan, komunikasi akan berlangsung lancar. Sebaliknya, bila bidang pengalaman komunikan tidak sama dengan bidang pengalaman komunikator, akan timbul kesukaran untuk mengerti satu sama lain. 


2. Proses komunikasi sekunder

Proses komunikasi secara sekunder adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah memakai lambang sebagai media pertama.
Seorang komunikator menggunakan media ke dua dalam menyampaikan komunikasike karena komunikan sebagai sasaran berada di tempat yang relatif jauh atau jumlahnya banyak. Surat, telepon, teleks, surat kabar, majalah, radio, televisi, film, dsb adalah media kedua yang sering digunakan dalam komunikasi. Proses komunikasi secara sekunder itu menggunakan media yang dapat diklasifikasikan sebagai media massa (surat kabar, televisi, radio, dan sebagainya) dan media nirmassa (telepon, surat, megapon, dan sebagainya).


FUNGSI KOMUNIKASI

William I. Gorden  mengkategorikan fungsi komunikasi menjadi empat, yaitu:

1. Sebagai komunikasi sosial
Fungsi komunikasi sebagai komunikasi sosial setidaknya mengisyaratkan bahwa komunikasi itu penting untuk membangun konsep diri kita, aktualisasi diri, untuk kelangsungan hidup, untuk memperoleh kebahagiaan, terhindar dari tekanan dan ketegangan, antara lain lewat komunikasi yang bersifat menghibur, dan memupuk hubungan hubungan orang lain. Melalui komunikasi kita bekerja sama dengan anggota masyarakat (keluarga, kelompok belajar, perguruan tinggi, RT, desa, ..., negara secara keseluruhan) untuk mencapai tujuan bersama.

2. Sebagai komunikasi ekspresif

Komunikasi berfungsi untuk menyampaikan perasaan-perasaan (emosi) kita. Perasaan-perasaan tersebut terutama dikomunikasikan melalui pesan-pesan nonverbal. Perasaan sayang, peduli, rindu, simpati, gembira, sedih, takut, prihatin, marah dan benci dapat disampaikan lewat kata-kata, namun bisa disampaikan secara lebih ekpresif lewat perilaku nonverbal. Seorang ibu menunjukkan kasih sayangnya dengan membelai kepala anaknya. Orang dapat menyalurkan kemarahannya dengan mengumpat, mengepalkan tangan seraya melototkan matanya, mahasiswa memprotes kebijakan penguasa negara atau penguasa kampus dengan melakukan demontrasi.

3. Sebagai komunikasi ritual

Suatu komunitas sering melakukan upacara-upacara berlainan sepanjang tahun dan sepanjang hidup, yang disebut para antropolog sebaga rites of passage, mulai dari upacara kelahiran, sunatan, ulang tahun, pertunangan, siraman, pernikahan, dan lain-lain. Dalam acara-acara itu orang mengucapkan kata-kata atau perilaku-perilaku tertentu yang bersifat simbolik. Ritus-ritus lain seperti berdoa (salat, sembahyang, misa), membaca kitab suci, naik haji, upacara bendera (termasuk menyanyikan lagu kebangsaan), upacara wisuda, perayaan lebaran (Idul Fitri) atau Natal, juga adalah komunikasi ritual. Mereka yang berpartisipasi dalam bentuk komunikasi ritual tersebut menegaskan kembali komitmen mereka kepada tradisi keluarga, suku, bangsa. Negara, ideologi, atau agama mereka.

4. Sebagai komunikasi instrumental

Komunikasi instrumental mempunyai beberapa tujuan umum, yaitu: menginformasikan, mengajar, mendorong, mengubah sikap, menggerakkan tindakan, dan juga menghibur.
Sebagai instrumen, komunikasi tidak saja kita gunakan untuk menciptakan dan membangun hubungan, namun juga untuk menghancurkan hubungan tersebut. Studi komunika membuat kita peka terhadap berbagai strategi yang dapat kita gunakan dalam komunikasi kita untuk bekerja lebih baik dengan orang lain demi keuntungan bersama. Komunikasi berfungsi sebagi instrumen untuk mencapai tujuan-tujuan pribadi dan pekerjaan, baik tujuan jangka pendek ataupun tujuan jangka panjang. Tujuan jangka pendek misalnya untuk memperoleh pujian, menumbuhkan kesan yang baik, memperoleh simpati, empati, keuntungan material, ekonomi, dan politik, yang antara lain dapat diraih dengan pengelolaan kesan (impression management), yakni taktik-taktik verbal dan nonverbal, seperti berbicara sopan, mengobral janji, mengenakankan pakaian necis, dan sebagainya yang pada dasarnya untuk menunjukkan kepada orang lain siapa diri kita seperti yang kita inginkan.



Kamis, 07 Oktober 2010

Nikah Muda? Siapa takut?!

Banyak yang bilang kalo nikah muda itu ga gaul, repot, ga bisa seneng-seneng, mengekang, dan segala macem judge2 tentang nikah muda yang aku denger. Selama ini, aku mikir, dan semakin tertarik mendalami agama, dan aku juga ikut ngaji lho sama yang expert, bukan sesat tapinya ya. Dari situlah, aku mengerti betul kenapa menikah muda itu malah justru sangat dianjurkandidalam agamaku, islam. Dalam islam memang ga diperbolehlkan pacaran, tapi aku pribadi belom bisa yang kaya gitu, aku butuh penjajakan untuk saling mengenal lebih dalam lagi pribadi pasanganku nanti yang aku harap bisa jadi pasangan hidup aku dunia akhirat. Aku salah satu perempuan yang pro sama nikah muda, tentunya dengan berbagai alasan kenapa aku pro. Alasan pertama adalah, menikah adalah menyempurnakan separo agama kita, waw bayangin deh, kalo kita-kita atau yang baca postingan blog aku ini belom nikah, berarti agama kita masi separo dong, tapi coba kita inget2 lagi, apa ia agama kita udah separo?? kalo aku pribadi sih measa sanagt belu, mungkin masih setengahnya dari separo, atau mungkin seperempatnya dari separo, nahlo?! begimana caranya ngelengkapin biar ga cuma separo?

Gini deh, kita ibaratkan agama kita itu sebuah lingkaran yah, lingkaran itu kita bagi 2 bagian, separo 50%, separo lg jg 50%, kalo kita belum menikah berarti, agama kita masi 50% kan, itu juga kalo bener ibadahnya, kalo engga? Nah, disinilah caranya membuat lingkaran kita full, yah hampir full lah, yaitu dengan menikah. Menikah itu hal yang sangat baik, malah dianjurkan oleh Rasul kita Baginda Muhammad Rasulullah saw, kata beliau menikah itu menjauhkan kita dari hal-hal yang tidak diinginkan, dan membuat agama kita nyaris sempurna. Kalo ada yang bilang "ngapain nikah cepet-cepet? seneng-seneng aja dulu umur kita kan masih panjang", menurut aku salah besar. Tidak ada satu pun yang tau kapan kita mati, mungkin besok, mungkin lusa, mungkin tahun depan, ya allahualam yah, hanya Allah yang tau, nah, kalo kita sekarang yang masih dikasih nikmat bisa menghirup udara, masih bisa kesana-kesini, masih bisa melakukan segala aktivitas yang kita mau, kenapa ga kita melaksanakan hal yang sudah jelas di contohkan baginda Muhammad?? Malah kalo udah berdua, at least punya suami, kita malah jadi lebih semnagt dalam beraktivitas, kalo ada masalah udah ada yang diajak share, kemana-mana ada yang nemenin,  dan yang terlebih udah halal. Seru banget kan?

Mengapa Allah menyuruh kita menikah? Mengapa pula kita dinajurkan melaksanakan pernikahan pada saat usia muda? Sebab, pernikahan memiliki hikmah-hikmah yang tinggi, baik untuk kepentingan individu, insan yang menjalaninya, kepentingan keluarga maupun masyarakat luas. Denganhikmah-hikmah tehsebut, maka kita semua tidak boleh tidak menerima perintah ini, walau dalam kondisi sesulit apapun.

Hikmah pernikahan:
  • Mempertahankan ras manusia: tujuan pernikahan salah satunya asalah untuk memperkembangbiakan keturunan, merupakan sarana untuk menyambung atau melanjutkan  generasi sehingga meramaikan bumi serta mnguak sesuatu yang ada didalamnya. Ini merupakan cita-cita yang tinggi.
  • Melindungi keturunan: dengan melaksanakan pernikahan sebagaimana di isyaratkan oleh allah, maka akan membuat bangga anak-anak mereka, bahwa mereka dilahirkan dari jalan yang bersih dari ibu dan bapak yang juga bersih. Kalau mereka memiliki marga, mereka dapat berbangga dengan merganya itu. 
  • Menyelamatkan umat dari demoralisasi: pernikahan merupakan sarana untuk menyalurkan kebuthan biologis manusia secara sah, terpelihara dan suci. Karena itu, tepatlah bila dikataakan bahwa pernikahan mencegah seseorang dari kerusakan dan kekotoran akhlak, sebab dorongan naluri seksnya tersalur lewat jalan yang sah. Sementara masyarakatpun akan terpelihara juga dari perilaku-perilaku penyimpangan.
  • Terciptanya gotong royong antara suami-istri untuk mendidik anak: suami istri dalam rumah tanganya akan saling membantu dalam menjalankan program-program kerumah-tanggaannya, mendidik anak untuk dipersiapkan sebagai generasi pejuangyang tangguh serta dalam melaksanankan kewajiban-kewajiban hidup lainnya secara umum. Satu sama lain akan saling mengisi dengan dorongan cinta. sehingga laki-laki yang bekerja mencari nafkah akan bersemangat, begitupun istri yang harus mengawasi anak-anak,merasa menemukan eksistensi.
  • Menjaga diri dari berbagai penyakit: harus diakui bahwa perilaku zina membawa konsekuensinegatif. Munculnya penyakit sifilis, gonore, aids dan penyakit lain, adalah dari dunia prostitusi. Penyakit ini muncul dari berkembang biakdari negara-negara yang berfaham anti moral agama, misalnya di Amerika, negara-negara Eropa serta Afrika. Pria dan wanita sama-sama dilanda kesesatan, padahal peringatan allah telah jauh-jauh diperingatkan dengan kejadian yang menimpa umat Nabi Luth.

Aku nulis ini, bukan bermaksud mendoktrin atau bertujuan yang ga bener yah, aku cuma mau menyadarkan ya setidaknya menshare apa yang aku tau. karena yang aku amati, remaja jaman sekrang nyeleneh semua cara berfikirnya. Bukan baerarti aku udah bener yah, aku juga masih banyak banget kekurangan, tapi alhamdulillah, aku cepet sadarnya dari kesalahan-kesalahn yang aku perbuat dlu. Anak jaman sekarang ini, selalu berfikir "jalanin aja apa yang ada didepan mata, ga usah muluk2 berharap", menurut aku, itu salah, yang namany aorang hidup harus ada planning, kedepannya mau gimana, harus ada peta hidup agar kita ga tersesat dimasa depan dan di jaman yang udah kacau begini. Ayo temen-temen kita buat peta kehidupan massa depan kita, targetkan apa yang akan kita capai, event nanti ga terwujud coba kita berpositiv thinking aja, berarti belom rejeki.hihihi. Emang susah berpikir positiv, tapi kita harus coba, demia kebaikan kita juga kan, ok!

Love, hug, kiss

Arum Ria Rahajeng
44308010019
Marketing Communications
Pemecahan konflik.

Rabu, 06 Oktober 2010

Iseng-iseng Nemu yang Luar Biasa Soal "keseloonya" para pekerja negara

Rabu siang sekitar jam 11.00 WIB aku (arum), dan ketiga temen aku iseng-iseng jalan-jalan nunggu kelas selanjutnya ke Mall X di bilangan Jakarta Barat, ternyata eh ternyata nemu yang luar biasa tentang pekerja negara yang kebetulan lagi berkeliaran di sekitar Food Court Mall X itu, yaaaa, ada kali sekitar 5orang cewe2 semua kayaknya sih emak2, biasalah, namanya juga emak2 ya, suka nya emg berkeliaran di mall.hehehehehe. Tanpa mereka sadari, aku foto mereka yang lagi order makanan, tapi sayangnya cuma keliatan badan belakang mereka aja, kalo mukanya pasti lebih seru yaa, selain bisa tenar, kan mereka juga bisa dijemur, biar kulitnya eksotis gitu kaya J-Lo *ngarep.


Aku mikir, wah kacau ni emak2, masih jam 11 kok udah pada berkeliaran di Mall, dipikir-pikir, enak banget ya, ud dapet gaji banyak, eh masi bisa jalan-jalan pula, lah trus apa kabar kerjaannya ya, kalo hari gini aja udah pada berkeliaran, nahloooooooooo????!!!!! What's On U'r Mind??? Malu dong ama rakyat, udah digaji dari uang rakyat, kok kelakuannya malah "keseleo", lalu kinerja nya mana??? Apa perlu dilaporkan Ke DEPNAKERTRANS ni biar pada kapok? sekali-sekali kayanya kita harus jeli deh ama hal-hal sepele gini, masalahnya setau aku, masuk pegawai negeri itu tes nya susah banget lho, malah ada yang lebih Qualified tapi karena ga ada uang "pelicin" ga bisa lolos jadi PNS, nah yang ga Qualified tapi berduit malah diloloskan, nah kok bisa-bisanya yang udah sangat beruntung itu lalai kerjanya.