Rabu, 12 Januari 2011

Kepemimpinan

Menurut Sarros dan Butchatsky (1996), istilah  ini dapat didefinisikan sebagai suatu perilaku dengan tujuan tertentu untuk mempengaruhi aktivitas para anggota kelompok untuk mencapai tujuan bersama yang dirancang untuk memberikan manfaat individu dan organisasi.

Kepemimpinan seringkali disamakan dengan manajemen. Padahal, keduanya berbeda. Menurut Bennis and Nanus (1995), pemimpin  berfokus mengerjakan yang benar, memastikan tangga yang kita daki bersandar pada tembok secara tepat. 

Pemimpin yang ideal ialah pemimpin yang mampu merangkul bawahan, anggotanya, bukan mengajak secara paksa. Pemimpin yang ideal adalah pemimpin yang mau mendengarkan keluhan anggotanya, bukan yang acuh terhadap anggotanya. Pemimpin yang ideal adalah pemimpin yang selalu menampung gagasan anggotanya, dan pemimpin yang ideal ialah pemimpin yang selalu mau berdiskusi dalam mengambil suatu keputusan, dan mampu membuat anggotanya sejahtera, itulah pemimpin yang idela menurut saya.

Tidak dipungkiri jabatan, kekuasaan, harta dan tahta mampu membuat setiap orang yang memilikinya menjadi lupa daratan dan lupa bahwa sebelumnya dia bukan apa-apa jika tidak ada dukungan dari orang sekitar. Semua sikap buruk ini tidak terlepas dari sifat atau watak bawaan dari si pemimpin itu sendiri. 

Pada umumnya studi pada tahap awal mencoba meneliti tentang watak individu yang melekat pada diri para pemimpin, seperti misalnya: kecerdasan, kejujuran, kematangan, ketegasan, kecakapan berbicara, kesupelan dalam bergaul, status sosial ekonomi mereka dan lain-lain (Bass 1960, Stogdill 1974).
Stogdill (1974) menyatakan bahwa terdapat enam kategori faktor pribadi yang membedakan antara pemimpin dan pengikut, yaitu kapasitas, prestasi , tanggung jawab, partisipasi, status dan situasi. Berikut adalah beberapa sifat atau watak pemimpin :
  • Model Situasional
Model ini merupakan pengembangan model sebelumnya dengan fokus utama faktor situasi sebagai variabel penentu kemampuan kepemimpinan.
  • Model Kepemimpinan yang Efektif
Model ini memberikan Informasi tentang tipe-tipe tingkah laku (types of behaviours) para pemimpin yang efektif.
  • Model Kepemimpinan Kontingensi
Model ini memfokuskan perhatiannya pada kecocokan antara karakteristik watak pribadi pemimpin, tingkah lakunya dan variabel-variabel situasional.
  • Model Transformasional
Ini merupakan model yang relatif baru, yang pada hakekatnya menekankan seorang pemimpin perlu memotivasi para bawahannya untuk melakukan tanggung jawab mereka lebih dari yang mereka harapkan.
Pemimpin transformasional harus mampu mendefinisikan, mengkomunikasikan dan mengartikulasikan visi organisai  dan bawahan harus menerima dan mengakui kredibilitas pemimpinnya.
Tipe-tipe kepemimpinan:
  • Instruktif         : tipe ini bersifat komunikasi satu arah, pemimpin sangat mengatur bawahannya, tidak mau mendengarkan keluhan para bawahannya, dan pemecahan masalah pun ditangani sendiri oleh pemimpin, bawahan tidak diperbolehkan ikut campur.
  • Konsultatif      : hampir sama dengan tipe instruktif tetapi atasan berkomunikasi dua arah, pemimpin mau mendengarkan keluhan bawahannya, tetapi tetap pengambilan keputusan tetap ada pada pemimpin.
  • Partisipatif       : komunikasi dua arah semakin lancer, semua keluhan anggotanya didengar, pengambilan keputusan dan pemecahan masalah pun anggota turut dilibatkan.

Kecerdasan emosi ialah hal yang sangat penting dimiliki oleh seorang pemimpin, karena dalam realitanya seorang pemimpin pasti selalu akandihadapkan oleh permasalahan yang begitu komplek yang sangat membuat emosi kita menjadi tidak stabil. Orang yang cerdas emosional itu dalam tingkat yang positif bisa menjadi pemimpin yang baik, bisa menjadi Presiden yang baik, menjadi Menteri yang baik, bisa menjadi Gubernur yang baik, bisa menjadi Bupati yang baik, bisa menjadi Direktur yang baik dan sebagainya dan bisa kaya raya. Namun sebaliknya dia bisa menjadi orang yang negatif dan merugikan orang lain, artinya bisa memanipulasi orang, menipu orang bahkan masyarakat.

Kecerdasan emosi akan semakin sangat penting ubtuk para pemimpin karena, dengan memiliki kecerdasaan emosi para pemimpin akan lebih mudah mengerti dan mudah mengenali emosi apa yang sedang ia alami dan bagaimana cara mengatur emosi yang sedang dialami.

Dengan mengetahui emosi yang sedang dialami, maka pemimpin pun tau betul mengungkapkannya secara tepat kepada orang lain. Selain itu, pentingnya kecerdasan emosi bagi pemimpin ialah agar para pemimpin mampu memotivasi dirinya sendiri, dengan mampu memotivasi diri sendiri, sudah pasti dia pun bisa memotivasi orang lain. Kecerdasan emosi juga bisa membuat kita mampu membaca situasi, saat orang yang ada disekitar kita marah misalnya, dengan kita tau dia sedan marah, kita bisa memotivasi dia dan meredam amarahnya.

Dengan memiliki kecerdasan emosi, para pemimpin pun pasti memiliki kemampuan untuk mempengaruhi anggotanya dengan baik, mempengaruhi disini pastilah dalam konteks positif. Karena, dengan cerdas emosi, pemimpin pasti memiliki kecakapan khusus dalam berkomunikasi yang efektif, sehingga komunikatif. Komunikatif yang dimiliki seorang pemimpin pastilah dalam konteks mampu berbicara didepan orang banyak, mampu memotivasi anggotanya, mempengaruhi anggotanya.

Pemimpin yang baik pun harus bisa memanajemen diri nya sendiri dan memanajemen waktunya, karma seorang pemimpin adalah panutan bagi setiap anggotanya.


Sumber:

Public Speaking

Semua kejadian atau aktivitas pasti membutuhkan komunikasi. Komunikasi adalah jembatan segala akar permasalahan yang ada. Untuk berkomunikasi tidaklah mudah juga tidaklah sukar, tergantung bagaimana kita bisa mengendalikan kondisi sekeliling kita, terlebih musuh yang paling sulit dilawan adalah rasa ketidak percayaan diri kita, bahwa sebenarnya kita mampu untuk bisa berbicara, mampu untuk bisa memimpin, dan mamou untuk bisa membuktikan bahwa kita layak didengar. 

Untuk berkomunikasi sejatinya dibutuhkan beberapa teknik, terlebih berbicara didepan umum, yang kita dituntut untuk lebih ekspresif, persuasif, dan komunikatif. Untuk mewujudkan komunikasi yang perfect seperti yang saya sebutkan tadi, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Untuk lebih jelasnya, saya akan telebih dahulu menjelaskan, apa itu Public Speaking?
Public speaking atau berbicara di depan publik bagi sebagian orang merupakan hal yang berat dan sukar, bahkan jika perlu dihindari. Ada juga yang beranggapan bahwa public speaking bukanlah bagian dari jalan hidupnya, biarlah orang lain yang memang berbakat untuk menjadi pembicara yang melakukannya.
Apakah public speaking adalah persoalan bakat? Tidak. Setiap orang punya bakat yang sama untuk berbicara, tinggal bagaimana orang tersebut mengembangkannya. Kunci dari Public Speaking ialah latihan dan percaya diri bahwa kita mampu.
Dapatkah orang yang pendiam/introvert menjadi pembicara yang ulung? Tentu saja bisa. Pendiam hanyalah soal pembawaan. Banyak pemimpin yang berpembawaan diam, namun saat berorasi berapi-api dan mampu mengobarkan semangat.
Kemampuan berbicara di depan umum tidaklah dimiliki setiap orang karena kemampuan ini berkaitan erat dengan citra pribadi. Biasanya orang yang memiliki  kemampuan ini  sering  disebut  dengan "pemimpin". Kemampuan berbicara di depan umum  dapat  dimiliki   karena  adanya bakat alam (sering disebut "dilahirkan"), dengan menjalani pelatihan atau secara spontan muncul dalam situasi darurat (bersifat sementara).

Public Speaking yang berhasil, ditentukan oleh empat faktor penting, yaitu dengan "Mengatasi Hambatan Kepribadian", "Penggunaan Body Language Secara Tepat", "Metode Penyampaian yang Sistematis dan Tepat Sasaran", serta "Penggunaan Alat Peraga." Selain itu, tentu saja diperlukan persiapan yang mantap, pelaksanaan yang meyakinkan, feeling dan finishing touch yang manis.

Kondisi Umum
  • Usahakan Anda terlihat oleh audiens
  • Pastikan suara Anda terdengar oleh seluruh audiens
  • Lakukan kontak mata
  • Katakan dengan wajah
  • Jangan tegang/menunduk, senyumlah dan tatap pendengar
Berbicara Efektif dan Menarik
  • Membangun rapport dengan audiens
  • Menarik perhatian dan minat audiens
  • Menyampaikan gagasan
  • Menyimpulkan: menguatkan gagasan utama yang disampaikan
  • Menutup Pembicaraan
Membangun Rapport
  • Berbagi identitas
  • Membangun pengalaman positif
  • Cross-matching harapan dan nilai audiens
  • Memunculkan humor yang sehat
Menarik Perhatian dan Minat Audiens
  • Hubungkan topik dengan audiens
  • Sampaikan pentingnya topik Anda
  • Kejutkan audiens dengan hal-hal tak terduga
  • Bangkitkan keingintahuan
  • Ajukan pertanyaan
  • Awali dengan kutipan
Menyampaikan Gagasan
  • Sampaikan ide Anda dengan antusias
  • Sesuaikan bahasa dengan audiens
  • Gunakan alat bantu yang sesuai
  • Selingi dengan humor, cerita, puisi, dll
  • Ajak keeterlibatan peserta

Mendayagunakan Suara
  • Sampaikan ide dengan volume suara yang didengar oleh seluruh audiens, pilih kata yang tepat, pelafalan yang jelas, dan intonasi yang sesuai
  • Gunakan suara lantang untuk semangat, komando dan perintah. Suara lirih untuk hal penting
  • Variasikan kecepatan bicara untuk meningkatkan kepentingan pesan Anda. Variasikan dengan jeda yang sering, irama yang mantap, dan kalimat yang pendek
Gerakan Tubuh
  • Be Natural: jangan diam atau terlihat kaku
  • Gunakan gerakan tangan, langkah kaki, untuk memperkuat arti
  • Lakukan sedikit gerak untuk audiens, cukup ekspresi wajah dan gerakan tangan.Jika audiens banyak, perbanyak gerak
  • Untuk menjelaskan konsep abstrak, kurangi gerak dan bicaralah perlahan. Untuk topik ringan, perbanyak gerak
Melibatkan Audiens
  • Komunikasi perlu diadakan secara dua arah agar dapat saling memberi feedback
  • Menyerap informasi hanya melalui pendengaran hasilnya kurang optimal
Yang Membuat Audiens Malas Terlibat
  • Sedikit kontak pribadi, tidak melakukan kontak mata, dan tidak memanggil dengan nama peserta
  • Membuat peserta pasif
  • Selalu mengkritik pertanyaan, usulan, jawaban, dan tingkah laku peserta
  • Membuat peserta merasa bodoh karena bertanya
Teknik Mengajukan Pertanyaan
  • Ajukan satu pertanyaan dalam satu waktu
  • Hindari pertanyaan tertutup dan direktif
  • Pertanyaan harus terfokus, tidak kabur
  • Ajukan pertanyaan yang memungkinkan peserta menunjukkan kepandaiannya
  • Ajukan pertanyaan yang merangsang interaksi peserta
  • Perhatikan peserta yang diam
  • Tunggu jawaban beberapa saat

Teknik Berespon terhadap Jawaban Peserta
  • Perhatikan jawaban verbal dan non-verbal
  • Variasikan respon untuk jawaban yang berbeda
  • Puji jawaban yang benar
  • Perbaiki jawaban yang salah dengan cara tidak mengkritik
Mengakhiri Pembicaraan
  • Simpulkan pembicaraan
  • Akhiri dengan mengutip kata-kata bijak yang sesuai dengan tema Anda
  • Buat pertanyaan yang dramatis
  • Jika ide Anda berupa ajakan, beri semangat melakukannya

Sumber:
  • http://id.wikibooks.org/wiki/Kurikulum_Kepemimpinan/Public_Speaking
  • http://indosdm.com/public-speaking-pedoman-berbicara-di-depan-publik


Selasa, 11 Januari 2011

Pentingnya Memiliki Soft Skill Di Dunia Kerja

Soft Skill??
Apa itu soft skill??
Apa pentingnya soft skill, okeh semoga apa yang aku tulis diblog ini berguna buat kalian semua, terutama bisa jadiin nilai tugas Interpersonal Skill saya ciamik, hihi

Bismillahirahmanirahim,
Soft skills pada dasarnya merupakan ketrampilan personal, yaitu ketrampilan khusus yang bersifat non-teknis, tidak berwujud, dan kepribadian yang menentukan kekuatan seseorang sebagai pemimpin, pendengar (yang baik), negosiator, dan mediator konflik. Sedangkan Hard skill bersifat teknis dan biasanya sekedar tertulis pada bio data atau CV seseorang yang mencakup pendidikan, pengalaman, dan tingkat keahlian (teknis). Soft Skills bisa juga dikatakan sebagai ketrampilan interpersonal seperti kemampuan berkomunikasi dan bekerja sama dalam sebuah kelompok.

Wikipedia memaparkan bahwa soft skills merupakan istilah sosiologis yang merujuk pada sekumpulan karakteristik kepribadian, daya tarik sosial, kemampuan berbahasa, kebiasaan pribadi, kepekaan/kepedulian, serta optimisme. Soft skills ini melengkapi hard skills- yang bisa dikatakan juga sebagai persyaratan teknis dari suatu pekerjaan. Soft skills tersebut mencakup
(a) kualitas pribadi - misalnya tanggung jawab, kepercayaan diri, kemampuan bersosialisasi, manajemen (pengendalian) diri, dan integritas atau kejujuran; dan
(b) ketrampilan interpersonal, misalnya berpartisipasi sebagai anggota kelompok, mengajar (berbagi pengetahuan) ke orang lain, melayani pelanggan, kepemimpinan, kemampuan negosiasi, dan bisa bekerja dalam keragaman.

Rasanya dengan mengulas pengertian soft skills tersebut, kita pasti bisa memahami pentingnya soft skill. Kita juga pasti yakin jika seseorang mempunyai karakteristik atau sifat seperti itu maka pastilah orang tersebut mempunyai daya saing atau setidak-tidaknya mempunyai “perbedaan” yang positif. Tapi kembali lagi ke pertanyaan semula, bisakah kita meningkatkan soft skills melalui proses belajar-mengajar?

Terlepas dari berbagai ramuan mujarab yang ditawarkan, pengembangan softskills di perguruan tinggi memang harus dilakukan secara integratif dan menyeluruh. Pengembangan softskills tidak hanya sekedar memberikan pelatihan atau kursus softskills, misalnya kursus kepribadian atau teknik komunikasi saja. Sebuah perguruan tinggi idealnya mengembangkan softskill mahasiswa (juga dosen tentunya hehehe) melalui kegiatan di dalam kelas dan di luar kelas. Di dalam kelas bukan juga hanya sebatas memberikan mata kuliah softskills atau kewirausahaan. Setiap mata kuliah selayaknya berusaha mengembangkan kemampuan softskill mahasiswa melalui metode mengajar yang bisa mengasah softskills mahasiswa. Salah satu yang bisa dikembangkan adalah metode diskusi dan presentasi kelompok, walaupun ada beberapa mahasiswa dan dosen agak enggan melaksanakannya, dengan berbagai alasannya masing-masing.

Pengembangan softskills di luar kelas bisa dilakukan dengan menciptakan suasana akademis yang kondusif terhadap softskills. Beberapa program yang bisa dicoba diantaranya adalah berbagai perlombaan yang bersifat kompetitif baik untuk mahasiswa maupun dosen; pengembangan sistem komunikasi interaktif antara civitas academica, penyedian media atau display sebagai wadah kreatifitas dan inovasi mahasiswa, dan lain-lain.

Banyak maksud yang diharapkan dari yang kita mempelajari soft skill, salah satunya ialah kita dapat dengan mudah mendapatka pekerjaan karena kecakapan kita di luar hard skill, kecakapan tersebut mencakup kecakapan kita dalam bergaul, berinteraksi, berbicara didepan orang banyak dan masih banyak lagi. Dengan kita meiliki soft skill kita dapat mudah beradaptasi dengan dunia asing kita, terlebih didunia kerja yang ranah nya sangat luas dan bisa dibilang dunia kerja itu keras, mengapa keras???

Dunia kerja adalah dunia dimana kita dihadapkan pada suatu permaslahan yang real, kompleks, dan sangat dibawah tekanan, tanggung jawab kita sangat diperlukan didunia kerja, kecakapan kita dalam berinteraksi dengan lingkungan kerja sangat dibutuhkan.

Berbagai hasil studi tentang kebutuhan perusahaan akan karyawan profesional adalah pentingnya segi kemampuan dalam berkomunikasi. Kemampuan yang dituntut perusahaan itu merupakan urutan ketiga setelah kemampuan intelektual dan kejujuran calon karyawannya. Alasan yang sering diungkapkan perusahan adalah kemampuan komunikasi sangat penting ketika seorang karyawan harus mampu menterjemahkan apa yang yang dikehendaki pimpinan, mampu menyampaikan gagasan-gasannya dengan gamblang, mampu membuat surat bisnis, dan mampu membangun komunikasi positif dengan atasan dan sesama karyawan. Bahkan perusahaan yang sangat aktif membangun jejaring bisnisnya, kemampuan karyawan profesional dalam berkomunikasi (negosiasi) bisnis dengan pihak rekanan sangat dibutuhkan.


Lebih-lebih ketika perusahaan memasuki pasar global, kemampuan berkomunikasi dengan menggunakan bahasa asing menjadi handalan perusahaan. Perusahaan-perusahaan di Indonesia sering mengalami kesulitan mencari calon karyawan profesional yang terampil dalam berkomunikasi seperti yang diuraikan di atas. Pasalnya ketrampilan yang termasuk  soft skill ini sangat jarang diajarkan di kalangan perguruan tinggi. Akibatnya perusahaan harus mengusahakan beragam jenis pelatihan dalam bidang komunikasi ini. Kemudian peusahaan pun harus menciptakan suasana komunikasi yang tidak semata-mata bernuansa bisnis saja tetapi bersuasana kekerabatan sosial internal perusahaan. Tujuannya adalah untuk meningkatkan motivasi dan sekaligus kinerja para karyawannya. Pertanyaannya apa dan bagaimana pendekatan-pendekatan komunikasi di lingkungan karyawan  yang sebaiknya diterapkan dalam suatu perusahaan?

Cara berkomunikasi klasik yang sejak lama dipakai adalah melalui: 
(1) pengungkapan kata-kata
(2) melalui bahasa tulisan. Dalam prosesnya dibutuhkan kemampuan berbicara efektif yang merupakan kombinasi dari tiga unsur yaitu (1)  isi pembicaraan,  (2) keterampilan komunikasi ujaran, dan (3) keterampilan komunikasi non-ujaran.

Berdasarkan pengamatan empiris selain komunikasi formal, komunikasi informal, di dunia manajemen memiliki ciri-ciri pokok yang berbeda atau keunggulan dibanding dengan komunikasi formal, antara lain adalah: tidak terikat pada hirarki jabatan, suasana lebih santai dan penuh kekeluargaan, materi komunikasi tidak selalu terkait langsung dengan pekerjaan, bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja, dan suasana komunikasi lebih terbuka. Disinilah kecakapan karyawan dalam bentuk softskills sangat memegang peranan penting dalam memperlancar proses komunikasi efektif.



Sumber:
  • http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/bhermana/2008/05/19/hard-skills-dan-soft-skills/

Jumat, 31 Desember 2010

Manajemen Diri

Manajemen diri menurut definisi saya adalah motode mgangatur atau mengkontrol apa, dimana, kapan, bagaimana kita (diri sendiri) yang akan kita lakukan. Semua yang kita lakukan harus ada pengendaliannnya, karena dari pengendalian itulah dapat tercipta suatu kesuksesan yang akan kita tuju. Manajemen sendiri saya artikan  mengatur, mengelola, memimpin, dan kata ”diri” sendiri saya artikan apa yang saya lakukan, dimana saya ada, dan segala sesuatu tentang saya adalah artikata dari ”diri”.

Setiap manusia pasti pernah melakukan berbagai kesalahan, baik yang disengaja, ataupun tidak, disinilah pentingnya peran manajemen diri. manajemen diri sangatlah penting dalam segala situasi. Manajemen diri dapat mengendalikan segala perbuatan kita, manajemen diri bisa membuat kita intropeksi diri dari segala perbuatan yang telah kita  perbuat, manajemen diri dapat membuat diri kita menjadi pemimpin yang tangguh, manajemen diri pun dapat membuat kita menjadi seorang pemenang.

Ya, ”pemenang”, pemenang disini saya artikan bahwa, menang dalam melawan rasa egois yang ada dalam diri kita. Egois berasal dari 2 kata yaitu, ”ego” yang berarti diri sendiri, pribadi, kemudian ”is” berarti kepentingan, mengutamakan. Jadi egois dapat dapat disumpulkan mengutamakan diri sendiri tanpa menghiraukan orang lain yg ada disekitarnya.

Beberapa waktu yang lalu saya membaca artikel yang berisi tentang Mahasiswa Indonesia yang melanjutkan studinya (perguruan tinggi) di Univ. Al-Azhar di Mesir. Ternyata kebanyakan mahasiswa yang belajar disana tidak sepenuhnya menjadi mahasiswa sungguhan. Diantara mereka ada yang ke mesir hanya untuk mendapatkan visa misalnya, menjadi istri dari lelaki yang sedang menuntut ilmu dimesir, atau sebaliknya, ada yang hanya mengejar gelar, dan masih banyak lagi alasan mereka yang menuntut ilmu di mesir.

Tidak saya pungkiri menahan rasa keinginan dan melawan hawa nafsu yang negatif tidaklah ringan, namun inilah tantangan, disinilah kemampuan kita untuk mengelola segala keinginan-keinginan yang hanya mengandalkan emosi semata. Saya pun sampai saat ini belum bisa (bukan berarti tidak sama sekali) mengelola, dan mengontrol diri sendiri.

Tetapi, setelah apa yang terjadi dalam diri saya dan kejadia-kejadia yang telah saya alami selama 21tahun belakangan ini membuat saya sadar akan ketidak tepatan saya dalam mengelola diri saya sendiri. Saya sering bahkan terlampau sering mengabaikan waktu dan kesempatan, saya pun sering mempergunakan waktu yang seharusnya bisa diisi dengan segala hal yang bisa membuat jalan menuju kesuksesan berada dekat didepan mata. Dan kesalahn fatal yang paling membuat saya merasa saya adalah manusia yang sangat merugi ialah, selama 21 tahun ini saya sering berfikir saya tidak mampu melakukan hal yang ikin saya lakukan dan saya sering membatasi diri saya.

Ada point yang saya sadari bahwa sangatlah penting berfikiran positif dalam segala hal, karena apa yang kita fikirkan, kita bayangkan maka itu yang akan terjadi. Point penting ini saya dapatkan dari seorang dosen yang kala itu sangatlah memberi pesan moral penting tentang berfikir positif. Berfikir positif bahwa kita pasti bisa melompat tinggi bahkan jauh lebih tinggi dari yang kita bayangkan. Jika kita berani melompat tinggi kita pasti bisa mencapai apa yang kita inginkan.  Coba kita renungkan apakah semua cita-cita kita atau katakanlah keinginan, mimpi-mimpi kita sudah semua tercapai? Jika belum, jawabannya adalah ada pada diri kita sendiri. Disadari atau tidak segala hal yang kita raih saat ini adalah berasal dari mimpi, usaha, motivasi diri dan “makanan” untuk manajemen diri kita.

Saatnya kita membuat batasan yang lebih menantang dan kemudian tantanglah batasan itu sampai kita berhasil mencapainya. Berikan makanan yang positif kepada manajemen diri kita terutama kedalam pikiran kita dan lakukan pengulangan agar keyakinan positif itu menjadi kebiasaan positif kita sehari-hari, yang akhirnya sebuah pikiran dapat merupakan kunci kegagalan sekaligus keberhasilan.

Jika kita memberikan masukan pikiran positif ke dalam pikiran kita maka ia akan menjadi kekuatan yang tak tergoyahkan. Dan sebaliknya jika kita memasukan pikiran yang negatif itu akan membuyarkan semua kesempatan yang
ada di depan mata kita

BERMIMPILAH. Bermimpi ialah salah satu wujud dari manajemen diri pula.





Kamis, 11 November 2010

Komunikasi Efektif



Komunikasi Efektif


Arum Ria Rahajeng
Marketing Communications
44308010019

 KATA PENGANTAR
Puji saya panjatkan kehadirat Tuhan YME karena dengan rahmat-Nya lah saya dapat menyelesaikan makalah ini dengan lancar. Tidak lupa ucapan terima kasih saya haturkan kepada Ibu Yoyoh selaku dosen Interpersonal Skill yang telah membiming saya dalam menyelesaikan makalah ini, serta kepada kedua orang tua saya, dan banyak segenap kawan-kawan yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.
Dalam makalah ini saya menjelaskan secara terperinci tentang Komunikasi Efektif  dari mulai pengertian komunikasi, fungsi komunikasi, sampai dengan bagaimana cara menciptakan komunikasi yang efektif.
Dengan adanya makalah ini, saya berharap bisa menambah keingin tahuan orang yang membaca tentang apa itu komunikasi dan segala macam yang berhubungan dengan komunikasi.
Penulis sadar, makalah ini masih banyak kekurangan baik dalam isi pembahasan dan juga penulisan, maka dari itu apabila ada kesalaha dalam penulisan dan informasi, penulis mengucapkan maaf yang sebesar-besarnya.






                                                                                                            Penulis

  Arum Ria Rahajeng
BAB I
PENDAHULUAN

  1. LATAR BELAKANG

Komunikasi adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan social tanpa komunikasi kita tidak akan tahu segala perkembangan yangterjadi di sekitar kita, tanpa komunikasi kita tidak akan tahu apa yang di inginkan sekeliling kita, tanpa komunikasi kita tidak akan bisa melangsungkan kehidupan. Kita sebagai makhluk social memang ditakdirkan stidak bisa hidup sendiri, kita pasti butuh bantuan orang lain, disinilah pentingnya peran komunikasi.

Perlu kita ketahui, komunikasi bukanlah hal yang mudah, untuk mencapaiapa yang kita inginkan, kita perlu mencapai komunikasi yang efektif, dan untuk mencapai komunikasi yang efektif sangat lah diperlukan proses komunikasi yang sempurna, dari mulai sumber, pesan, saluran, penerima, feed back. Kelima element itulah yang sangat mempengaruhi bisa atau tidaknya tercipta komunikasi yang efektif.

Bisa kita katakan komunikasi yang kita lakukan sudah efektif apabila, adanya encoding-decoding yang berlangsung dalam kegiatan komunikasi.


BAB II

PEMBAHASAN


Beberapa definisi komunikasi:

·         Harold Laswell: Komunikasi adalah gambaran mengenai siapa, mengatakan apa, melalui media apa, kepada siapa, dan apa efeknya.

·         William J. Seller: Komunikasi adalah proses dimana simbol verbal dan nonverbal dikirimkan, diterima dan diberi arti.

·         Onong Cahyana Effendi: Komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberitahu, mengubah sikap, pendapat, atau perilaku, baik secara lisan (langsung) ataupun tidak langsung (melalui media).

Dari beberapa definisi diatas dapat saya simpulkan, komunikasi dapat diartikan suatu proses penyampaian pesan dari sumber (komunikator) ke penerima pesan (komunikan) melalui sumber atau saluran  yang ditentukan  dan  berdampak yang positif atau negative, dampak disini biasa disebut feed back. Proses komunikasi tidak selalu dilakukan dengan lisan, tulisan, komunikasi juga bisa dilakukan dengan gerakan-gerakan atau symbol tertentu yang memiliki makna tertentu yang bisa dipahami oleh si penerima pesan.

Komunikasi memiliki beberapa fungsi, antara lain:

·         To educate

·         To inform

·         To persuade

·         To entertain

·         To influence


Element-element komunikasi, yakni:

·         Sumber (source)

·         Pesan (message)

·         Saluran (channel)

·         Penerima (receiver)

 

Keempat elemen inilah yang menjadi kompeonen utama penentu keberhasilan suatu komunikasi, bila salah satu dari element tersebut tidak diadakan dalam proses komunikasi, maka komunikasi tidak akan berhasil sempurna.

Selain ke empat elemen tadi, ada 3 elemen tambaha, yakni:
  1. Feedback (Umpan Balik), Umpan balik adalah suatu respon yang diberikan oleh penerima. Penerima disini bukan dimaksudkan kepada penerima sasaran (khalayak), namun juga bisa didapatkan dari media itu sendiri. Misal, kita sebagai seorang penulis mengirimkan sebuah artikel kepada suatu media massa. Lalu, bisa saja kita artikel kita ternyata bagus, namun ada beberapa hal yang harus di edit. Sehingga, pihak media mengembalikan artikel kita untuk di edit ulang.
  2. Efek, sebuah komunikasi dapat menyebabkan efek tertentu. Efek komunikasi adalah sebuah respon pada diri sendiri yang bisa dirasakan ketika kita mengalami perubahan (baik itu negatif atau positif) setelah menerima pesan. Efek ini adalah sebuah pengaruh yang dapat mengubah pengetahuan, perasaan, dan perilaku (Kognitif, afektif, dan konatif)

  3. Lingkungan, adalah sebuah situasi yang dapat mempengaruhi terjadinya suatu komunikasi. Situasi Lingkungan terjadi karena adanya 4 faktor :
  • Lingkungan Fisik(Letak Geografis dan Jarak)
  • Lingkungan Sosial Budaya (Adat istiadat, bahasa, budaya, status sosial)
  • Lingkungan Psikologis ( Pertimbangan Kejiwaan seseorang ketika menerima pesan)
  • Dimensi Waktu (Musim, Pagi, Siang, dan Malam)






Wilbur Schramm (dalam Effendy, 1994) menyatakan bahwa komunikasi akan berhasil (terdapat kesamaan makna) apabila pesan yang disampaikan oleh komunikator cocok dengan kerangka acuan (frame of reference) , yakni paduan pengalaman dan pengertian (collection of experiences and meanings) yang diperoleh oleh komunikan. Selain itu bidang (field of experience) merupakan faktor penting juga dalam komunikasi. Jika bidang pengalaman komunikator sama dengan bidang pengalaman komunikan, komunikasi akan berlangsung lancar.

Dari yang dikemukakan oleh Wilbur Scharmm dapat dismpulkan, untuk berkomunikasi efektif tidaklah mudah, antara komunikan dan komunikator harus memiliki setidaknya persamaan dalam beberapa hal. Dengan adanya persamaan-persamaan tersebut, maka komunikasiakan berjalan efektif, tepat pada ada yang diiinginkan oleh komunikator, dan feed back yang diharapkan pun akan baik. Dalam proses komunikasi yang efektif, ada proses yang di sebut proses encoding-decoding, yakni teknik penyampaian pesan  dan penerimaan pesan.

Encoding ialah cara komunikator menyampaikan pesan ke komunikan dengan baik, dengan melihat siapa yang diajak brekomunikasi. Sedangkan decoding ialah proses dimana penerima pesan atau komunikan menengkap pesan yang telah disanpaikan oleh komunikator dan pemahaman pesan, yang berjung pada feedback.

Feed back positif akan terjadi apabila proses encoding yang dilakukan oleh komunikator sempurna, ada banyak hal yang harus diperhatikan oleh komunikator dalam menyampaikan pesan ke komunikan anatara lain memahami latar belakang pengalaman, kemampuan, kecerdasan, minat dan lain-lain dari penerima.
Menurut Stewart L. Tubbs dan Sylvia Moss,  komunikasi yang efektif setidaknya harus menghasilkan 5 hal, antara lain:

  1. Pengertian dan menyampaikan informasi
  2. Kesenangan
  3. Pengaruh pada sikap
  4. Hubungan yang makin baik dan tindakan
  5. Menghasilkan tindakan nyata

1.                  Pengertian dan Menyampaikan Informasi
Ketepatan dalam memberikan atau penyampaian informasi oleh komunikator ke komunikas, agar apa yang dimaksud oleh komunikator tidak diartikan lain. Misalnya, kata gila yang disampaikan ke komunikan dapat dipersepsikan berbeda-beda oleh setiap komunikan, tergantung bagaimana si komunikator menyampaikannya, terkait dengan gesture, mimik wajah, dan intonasi.

2.                  Kesenangan
Tidak semua yang kita sampaikan harus berbentuk informasi yang monoton, tetapi komunikasi juga harus menimbulkan rasa senang, akrab, hangat dan kekeluargaan misalnya kita menyapa teman lama yang sudah lama tidak bertemu dengan kalimat ” Apa kabar, lama tidak jumpa.”

3.                  Pengaruh Pada Sikap
Komunikasi yang kita hasilkan haruslah dapat sedikit banyak mempengaruhi seseorang yang kita ajak berkomunikasi. Disinilah fungsi komunikasi persuasi berlangsung, persuasi sendiri berarti mempengaruhi atau mengajak. Contohnya, seorang khatib masjid yang sedang memberikan ceramah di masjid, khatib tersebut menerangkan bahwa berzakat adalah wajib bagi semua umat Islam.


4.                  Hubungan yang Makin Baik dan Tindakan
Sebuah penelitian yang pernah dilakukan oleh Philip G Zimbardo, membuktikan kurangnya komunikasi (disebabkan oleh anonimitas/tidak saling mengenal) menjadikan orang menjadi agresif, senang mencuri dan merusak dan kurang memiliki tanggung jawab sosial.

5.                  Menghasilkan Tindakan Nyata
Keberhasilan komunikasi biasanya diukur dari tindakan nyata yang dihasilkan. Karena untuk menghasilakan tindakan, kita harus berhasil lebih dahulu menanamkan pengertian, membentuk dan mengubah sikap atau menumbuhkan hubungan yang baik. Tindakan adalah hasil dari komulatif sebuah proses komunikasi.



KESIMPULAN

Manusia ditakdirkan menjadi makhluk sosial, tidak bisa hidup tanpa bantuan oarng lain. Komunikasi adalah salah satu cara untuk bersosialisasi dengan lingkungan sekitar, tanpa komunikasi hidup kita akan statis, tidak berkembang. Komunikasi sangat lah membantu kita untuk mencurahkan apa yang kita butuhkan, apa yang kita inginkan kepada orang lain yang kita aja untuk berkomunikasi, asalakan proses komunikasi yang kita lakukan sempurna, dan faktor-faktor penting dalam komunikasi kita perhatikan saan berkomunikasi. Dengan itu semua, maka akan tercipta komunikasi yang efektif dan apa yang kita butuhkan dan kita inginkan dapat terjuwud sesuai tujuan kita.








DAFTAR PUSTAKA

Rabu, 03 November 2010

Negosiasi (Interpersonal Skill)

Negosiasi adalah sebuah bentuk interaksi sosial saat pihak - pihak yang terlibat berusaha untuk saling menyelesaikan tujuan yang berbeda dan bertentangan. Menurut kamus Oxford, negosiasi adalah suatu cara untuk mencapai suatu kesepakatan melalui diskusi formal.
Negosiasi merupakan suatu proses saat dua pihak mencapai perjanjian yang dapat memenuhi kepuasan semua pihak yang berkepentingan dengan elemen-elemen kerjasama dan kompetisi.

Faktor yang paling berpengaruh dalam negosiasi adalah filosofi yang menginformasikan bahwa masing-masing pihak yang terlibat. Ini adalah kesepakatan dasar kita bahwa "semua orang menang", filsafat ini menjadi dasar setiap negosiasi. Kunci untuk mengembangkan filsafat supaya "semua orang menang" adalah dengan mempertimbangkan setiap aspek negosiasi dari sudut pandang pada pihak lain dan pihak negosiator.

Berikut ini, adalah keterampilan -keterampilan dasar dalam bernegosiasi 
  1. Ketajaman pikiran / kelihaian
  2. Sabar
  3. Kemampuan beradaptasi
  4. Daya tahan
  5. Kemampuan bersosialisasi
  6. Konsentrasi
  7. Kemampuan berartikulasi
  8. Memiliki selera humor

Negosiasi terjadi ketika kita melihat bahwa orang lain memiliki atau menguasai sesuatu yang kita inginkan. Tetapi sekedar menginginkan tidak cukup. Kita harus melakukan negosiasi untuk mendapatkan apa yang kita inginkan dari pihak lain yang memilikinya dan yang juga mempunyai keinginan atas sesuatu yang kita miliki. Sedangkan agar negosiasi dapat terjadi dengan sukses, kita harus juga bersiap untuk memberikan atau merelakan sesuatu yang bernilai yang dapat kita tukar dengan sesuatu yang kita inginkan tersebut.
Dalam buku Teach Yourself Negotiating, karangan Phil Baguley, dijelaskan tentang definisi NEGOSIASI yaitu suatu cara untuk menetapkan keputusan yang dapat disepakati dan diterima oleh dua pihak dan menyetujui apa dan bagaimana tindakan yang akan dilakukan di masa mendatang. Sedangkan negosiasi memiliki sejumlah karakteristik utama, yaitu:
1. senantiasa melibatkan orang – baik sebagai individual, perwakilan organisasi atau perusahaan, sendiri atau dalam kelompok;
2. memiliki ancaman terjadinya atau di dalamnya mengandung konflik yang terjadi mulai dari awal sampai terjadi kesepakatan dalam akhir negosiasi;
3. menggunakan cara-cara pertukaran sesuatu –baik berupa tawar menawar (bargain) maupun tukar menukar (barter);
4. hampir selalu berbentuk tatap-muka –yang menggunakan bahasa lisan, gerak tubuh maupun ekspresi wajah;
5. negosiasi biasanya menyangkut hal-hal di masa depan atau sesuatu yang belum terjadi dan kita inginkan terjadi;
6. ujung dari negosiasi adalah adanya kesepakatan yang diambil oleh kedua belah pihak, meskipun kesepakatan itu misalnya kedua belah pihak sepakat untuk tidak sepakat.

Pada dasarnya negosiasi bisa terjadi dimanapun, kapanpun tergantung sebesar apa masalahnya dan apa yang di diskusikan. Negosiasi tidak semua orang bisa melakukannya, karena negosiasi perlu keterampilan khusus, seperti kecakapan dalam berbicara, berpenampilan didepan umum, mampu mengendalikan emosi, dan yang paling terpenting dalam negosiasi adalah mencapai kesepakatan bersam antara kedua belah pihak, win-win, dan negosiasi bukan persuasi yang mengarah ancaman. Negosiasi adalah penting, menurut saya pribadi negosiasi itu melatih kita untuk mengasah jiwa kepemimpinan kita dan juga negosiasi dapat membuat kita mengenal karakter orang-orang yang kita ajak bernegosiasi.

Sumber:
http://www.edo.web.id/wp/2007/08/14/negosiasi/