Rabu, 12 Januari 2011

Kepemimpinan

Menurut Sarros dan Butchatsky (1996), istilah  ini dapat didefinisikan sebagai suatu perilaku dengan tujuan tertentu untuk mempengaruhi aktivitas para anggota kelompok untuk mencapai tujuan bersama yang dirancang untuk memberikan manfaat individu dan organisasi.

Kepemimpinan seringkali disamakan dengan manajemen. Padahal, keduanya berbeda. Menurut Bennis and Nanus (1995), pemimpin  berfokus mengerjakan yang benar, memastikan tangga yang kita daki bersandar pada tembok secara tepat. 

Pemimpin yang ideal ialah pemimpin yang mampu merangkul bawahan, anggotanya, bukan mengajak secara paksa. Pemimpin yang ideal adalah pemimpin yang mau mendengarkan keluhan anggotanya, bukan yang acuh terhadap anggotanya. Pemimpin yang ideal adalah pemimpin yang selalu menampung gagasan anggotanya, dan pemimpin yang ideal ialah pemimpin yang selalu mau berdiskusi dalam mengambil suatu keputusan, dan mampu membuat anggotanya sejahtera, itulah pemimpin yang idela menurut saya.

Tidak dipungkiri jabatan, kekuasaan, harta dan tahta mampu membuat setiap orang yang memilikinya menjadi lupa daratan dan lupa bahwa sebelumnya dia bukan apa-apa jika tidak ada dukungan dari orang sekitar. Semua sikap buruk ini tidak terlepas dari sifat atau watak bawaan dari si pemimpin itu sendiri. 

Pada umumnya studi pada tahap awal mencoba meneliti tentang watak individu yang melekat pada diri para pemimpin, seperti misalnya: kecerdasan, kejujuran, kematangan, ketegasan, kecakapan berbicara, kesupelan dalam bergaul, status sosial ekonomi mereka dan lain-lain (Bass 1960, Stogdill 1974).
Stogdill (1974) menyatakan bahwa terdapat enam kategori faktor pribadi yang membedakan antara pemimpin dan pengikut, yaitu kapasitas, prestasi , tanggung jawab, partisipasi, status dan situasi. Berikut adalah beberapa sifat atau watak pemimpin :
  • Model Situasional
Model ini merupakan pengembangan model sebelumnya dengan fokus utama faktor situasi sebagai variabel penentu kemampuan kepemimpinan.
  • Model Kepemimpinan yang Efektif
Model ini memberikan Informasi tentang tipe-tipe tingkah laku (types of behaviours) para pemimpin yang efektif.
  • Model Kepemimpinan Kontingensi
Model ini memfokuskan perhatiannya pada kecocokan antara karakteristik watak pribadi pemimpin, tingkah lakunya dan variabel-variabel situasional.
  • Model Transformasional
Ini merupakan model yang relatif baru, yang pada hakekatnya menekankan seorang pemimpin perlu memotivasi para bawahannya untuk melakukan tanggung jawab mereka lebih dari yang mereka harapkan.
Pemimpin transformasional harus mampu mendefinisikan, mengkomunikasikan dan mengartikulasikan visi organisai  dan bawahan harus menerima dan mengakui kredibilitas pemimpinnya.
Tipe-tipe kepemimpinan:
  • Instruktif         : tipe ini bersifat komunikasi satu arah, pemimpin sangat mengatur bawahannya, tidak mau mendengarkan keluhan para bawahannya, dan pemecahan masalah pun ditangani sendiri oleh pemimpin, bawahan tidak diperbolehkan ikut campur.
  • Konsultatif      : hampir sama dengan tipe instruktif tetapi atasan berkomunikasi dua arah, pemimpin mau mendengarkan keluhan bawahannya, tetapi tetap pengambilan keputusan tetap ada pada pemimpin.
  • Partisipatif       : komunikasi dua arah semakin lancer, semua keluhan anggotanya didengar, pengambilan keputusan dan pemecahan masalah pun anggota turut dilibatkan.

Kecerdasan emosi ialah hal yang sangat penting dimiliki oleh seorang pemimpin, karena dalam realitanya seorang pemimpin pasti selalu akandihadapkan oleh permasalahan yang begitu komplek yang sangat membuat emosi kita menjadi tidak stabil. Orang yang cerdas emosional itu dalam tingkat yang positif bisa menjadi pemimpin yang baik, bisa menjadi Presiden yang baik, menjadi Menteri yang baik, bisa menjadi Gubernur yang baik, bisa menjadi Bupati yang baik, bisa menjadi Direktur yang baik dan sebagainya dan bisa kaya raya. Namun sebaliknya dia bisa menjadi orang yang negatif dan merugikan orang lain, artinya bisa memanipulasi orang, menipu orang bahkan masyarakat.

Kecerdasan emosi akan semakin sangat penting ubtuk para pemimpin karena, dengan memiliki kecerdasaan emosi para pemimpin akan lebih mudah mengerti dan mudah mengenali emosi apa yang sedang ia alami dan bagaimana cara mengatur emosi yang sedang dialami.

Dengan mengetahui emosi yang sedang dialami, maka pemimpin pun tau betul mengungkapkannya secara tepat kepada orang lain. Selain itu, pentingnya kecerdasan emosi bagi pemimpin ialah agar para pemimpin mampu memotivasi dirinya sendiri, dengan mampu memotivasi diri sendiri, sudah pasti dia pun bisa memotivasi orang lain. Kecerdasan emosi juga bisa membuat kita mampu membaca situasi, saat orang yang ada disekitar kita marah misalnya, dengan kita tau dia sedan marah, kita bisa memotivasi dia dan meredam amarahnya.

Dengan memiliki kecerdasan emosi, para pemimpin pun pasti memiliki kemampuan untuk mempengaruhi anggotanya dengan baik, mempengaruhi disini pastilah dalam konteks positif. Karena, dengan cerdas emosi, pemimpin pasti memiliki kecakapan khusus dalam berkomunikasi yang efektif, sehingga komunikatif. Komunikatif yang dimiliki seorang pemimpin pastilah dalam konteks mampu berbicara didepan orang banyak, mampu memotivasi anggotanya, mempengaruhi anggotanya.

Pemimpin yang baik pun harus bisa memanajemen diri nya sendiri dan memanajemen waktunya, karma seorang pemimpin adalah panutan bagi setiap anggotanya.


Sumber:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar